Pages

Wednesday, November 17, 2010

Bandot tengik

Krisis moneter rupanya telah meluluh lantakkan ekonomi bangsa. Semua orang tahu hal itu. Tetapi yang paling menderita adalah rakyat kecil. Hal ini juga menimpa keluargaku. Sebelum krismon, suamiku adalah seorang pengawas bangunan pada suatu perusahaan kontraktor. Tetapi begitu badai krismon mengamuk, robohlah seluruh bangunan ekonomi rumah tanggaku. Kenapa? Karena kontraktor terbelit dengan hutang yang menggunung. Bank relasinya ambruk terkena likuiditas. Akibatnya kami sekeluarga harus pulang, meninggalkan rumah kontrakan perusahaan. Pulang ke desa, itulah keputusan yang tidak dapat dihindari. Anak-anak terpaksa berhenti sekolah. Untuk makan sehari-hari, suami terpaksa jadi tukang batu untuk pembangunan kecil-kecilan, suatu pekerjaan yang kurang pas bagi seorang lulusan politeknik jurusan teknik sipil. Tapi semuanya tidak penting kecuali satu; bagaimana perut orang serumah tetap terisi setiap hari.

Sehingga ketika Pak Sumardi, "orang sukses" di Jakarta pulang ke desa kami, dan menawarkan kepadaku untuk dikirim sebagai TKW, suamiku menyetujuinya. Namun aku pribadi sebenarnya agak berat meninggalkan suami dan dua anakku yang masih kecil-kecil. Satu di SD kelas satu dan kakaknya SD kelas dua. Tapi kerja apalah yang dapat diperoleh seorang jebolan akademi sekretaris dan manajemen semester ketiga seperti aku. Pernah memang, suatu hari, seorang menawariku bekerja di panti pijat dengan gaji pokok pertama Rp. 600.000 per bulan (30 hari kerja per bulan), belum terhitung bonus dari perusahaan dan tips dari tamu. Barangkali postur tubuhku yang semampai, wajah yang cukup cantik (suamiku juga cakep loh) dianggap cukup dapat menarik para hidung belang. Kulitku yang putih, membungkus otot-otot tubuh yang sintal dan gempal berisi, diyakini dapat menggaet langganan panti pijat lebih banyak. Belum lagi buah dadaku; berbentuk kerucut dengan konsistensi yang masih kencang (di saat aku bersanggama buah dada ini selalu menjadi mainan suami), tentu akan menyenangkan kalau giliran si pemijat yang justru ganti dipijati oleh tamunya.

Tentu yang dipijat bukan hanya kaki dan tangan, tetapi buah dada, vulva, dan yang lain-lainnya. Diajak gulat di atas tempat tidur? Pasti aku akan reaktif dan agresif berkat senam aerobik yang kulakukan setiap pagi sewaktu masih tinggal di rumah kontrakan. Sudahlah, semua orang tahu sendiri kelanjutan lakon ini. Belum cukup dapat menggambarkan profilku? Lihat saja artis Meriam Bellina (maaf kalau aku jadikan bandingan), itu artis yang tiap malam minum kapsul yang bikin suaminya terangsang secara "luar biasa". Kalau diprosentasi profil aku kira-kira 80% mirip artis yang tetap sintal dan cantik itu. Cuma kalau soal buah dada, aku yakin masih montok punyaku. Namun semua orang pasti tahu, menjadi tukang pijat di malam hari dari jam 18:00 sampai 24:00 pada hakikatnya adalah menjadi pelacur terselubung. Tulisan ini tidak bermaksud untuk menakut-nakuti atau menghalangi mereka yang ingin menjadi TKW di luar negeri. Tidak sama sekali. Aku sekedar ingin menceriterakan pengalamanku, yang semoga tidak akan pernah dialami oleh orang lain, kecuali aku. Biarlah hal itu menjadi catatan kenangan hidupku sendiri. Baiklah kumulai saja.

Pengalaman menjadi TKW, "dipaksa melayani bandot tengik". Setelah dua minggu aku berada di rumah Pakde Mardi, akhirnya semua urusan selesai. Hari Sabtu jam 18:30 aku akan diberangkatkan ke Philipina sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Aku tidak tahu bagaimana liku-liku pengurusan visa, ijin kerja dan "tetek-bengek" lain yang kabarnya ruwet tersebut. Yang aku tahu, aku memberi Pakde Mardi uang sebanyak Rp 300.000, katanya untuk membayar biaya paspor dan lain-lainnya. Biaya pesawat, pemondokan dan sebagainya akan dibayar dulu oleh pihak PT pengerah jasa tenaga kerja dan akan aku bayar secara mencicil dari potongan gaji kelak setelah mulai kerja. Pakde Mardi mengatakan bahwa hari Sabtu aku akan berangkat dari rumah pada pagi jam 10:00, karena Pakde mau mengantarkanku putar-putar dulu keliling Jakarta. Setelah berpamitan dengan seisi rumah, Bude Mardi, anaknya, dan lain-lainya. Aku berangkat dengan mobil yang disetir sendiri oleh Pakde. Aku duduk di samping Pakde di depan. Dari rumah rupanya aku tidak terus dibawa ke Bandara Sukarno-Hatta (apalagi waktu berangkat pesawatnya masih 8 jam lagi).

Aku diajak turun waktu mobil diberhentikan di halaman parkir Mall Mangga Dua.
"Min, ayo turun dulu, Pakde mau belikan kamu sedikit bekal."
"Ah, sudah Pakde, tidak usah repot-repot, Pakde saja silakan, aku nunggu di mobil saja."
Tetapi Pakde dengan isyarat tangan yang siap menuntun berkata, "Ayo, manut aku, jangan menolak." Terpaksa aku ikut turun. Selama di pasar aku digandeng diajak berputar-putar mengitari hampir seluruh bangunan pasar. Mula-mula aku diajak ke los penjual bahan pakaian jadi, di situ aku dibelikan rok warna merah yang bagus, harganya sekitar Rp 250 ribu, suatu harga yang bagi aku sebagai orang yang sedang prihatin, sangat mahal. Kecuali itu aku juga dibelikan arloji wanita, seharga Rp 200 ribu. Tentunya aku menolak waktu barang-barang dibeli itu akan diperuntukkan untukku, tetapi rasanya aku tidak berdaya, apalagi barang tersebut setelah dimasukkan tas, aku juga yang harus membawa. Dan terakhir, aku diajak makan direstoran yang cukup mewah dengan aneka macam hidangan baik makanan Indonesia maupun internasional (masakan China, Korea dan sebagainya).

Pembaca tahu apa yang aku makan; nasi soto ayam, itu saja. Habis, bagaimana aku dapat makan hidangan yang lebih dari itu. Bukan soal bahwa nantinya Pakde yang akan membayar, tetapi karena rasa sependeritaan dengan suami dan anak-anak aku yang tiap hari hanya makan nasi dengan garam saja. Ora kolu, istilahnya dalam bahasa Jawa (rasa tidak mampu menelan). Kira-kira jam satu siang, aku keluar dari mall. Kembali Pakde menyetir, dan aku duduk di sampingnya. Baru kurang lebih setengah jam mobil berjalan, Pakde berkata,
"Min, kowe ninggali aku, yoo...?"
aku terkejut.
"Ninggali menopo Pakde...?" (memberi tinggalan apa).
"Ya, ini kalau kamu mau ya.. Min, Pakde ingin menidurimu."
"Blaarrr..." rasanya sebuah petir keras sekali menyambar kepalaku. Benarkah yang tadi aku dengar? Sambil berdebar, aku memberanikan diri untuk bertanya,
"Maksud Pakde bagaimana?"
"Yaaa itu tadi, aku ingin menidurimu, sebentar saja."
(Mooddiaar.. awak mami, teriak batinku. Tidak salah yang aku dengar tadi). Dunia sekitar rasanya jadi gelap. Sungguh, siapa akan menyangka bahwa Pakde yang tadinya kukenal sebagai orangtua, yang dua bulan lalu datang ke desaku mengajakku berangkat sebagai TKW ini adalah "BANDOT TENGIK" yang akan mencicipi tubuhku. Siapa akan menduga bahwa orangtua yang di depan isteri dan anaknya terkesan alim ini adalah "HIDUNG BELANG" yang bernafsu binatang. Siapa yang akan curiga bahwa "BAJINGAN BUSUK" ini akan membeli tubuhku dengan hadiah yang dibeli di Mall Mangga Dua tadi.

Rasanya aku ingin berteriak keras-keras biar semua orang di jalan itu mendengar. Tapi tidak bisa. Suaraku tidak keluar. Sebaliknya aku cuma menunduk, menangis "nggu-guk" (tersedu-sedu) dengan rintihan lirih, dan air mata yang mulai mengucur deras. Aku tidak tahu dimana pikiranku dan bagaimana harus menjawabnya, sampai ketika Pakde menyapaku,
"Gimana Min, mau ya Min, sebentar saja... nggak apa-apa, tidak sakit kok...?"
Huwaah, maling edan tenan, teriak hatiku. Bukan masalah tidak sakit, tapi ini kan tubuh manusia, bukan manekin atau boneka, kurang ajar benar "Bandot" ini, pikirku. Aku jadi bingung, mau menjawab iya, jelas aku akan dipompa, digenjot dan dienjot-enjot seperti mainan enjot-enjotan atau ditunggangi seperti kuda balap yang dikendalikan oleh joki "Bajingan Tengik" ini. Dengan berpegangan buah dadaku, pasti dia akan memperlakukanku seperti kuda balap yang membawanya ke surga kenikmatan, sementara aku terhantar ke neraka laknat. Dia pasti akan menciumi seluruh tubuhku, menjilati pahaku yang putih, dan mengecupi serta meremas-remas buah dadaku yang masih kencang. Dia juga akan mendekap, melahap, mengguling-gulingkan tubuhku, juga mengocok dan memompa kemaluanku sampai ludes, habis-habisan, menyentorkan air mani sebanyak-banyaknya ke liang kemaluanku seperti tukang bensin mengisikan bensin ke tangki mobil.

Tetapi... kalau aku menolak... kalau aku tidak mau... bagaimana nasibku. Ibaratnya, aku ini, dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun sudah berada ditangan "Bandot" ini. Atau ibarat orang berada di tepi jurang dengan tebing tinggi; aku tinggal pilih, di dorong, jatuh dan mati karena terhempas di dasar jurang, atau kupegang tangan "Bandot" ini untuk minta diselamatkan. Sungguh suatu pilihan yang rumit. Kalau aku menolak bagaimana kalau dia meminta kembali biaya pembelian tiket dan lain-lain yang telah dikeluarkannya. Bagaimana kalau aku tidak (dan pasti tidak mungkin) mampu membayar semua itu, lalu aku dijual ke seorang konglomerat hidung belang yang sanggup membeli tubuh dan berikut kemaluanku berapa saja harganya. Aku tambah bingung dan tercenung. "Mau ya Min, tokh.. hanya sebentar saja." Aku tidak menjawab kecuali tangisku yang tambah "ngguguk", disertai keluarnya air mata yang tambah deras. Tetapi "Badot" ini menangkap ke-"diaman"-ku ini sebagai peng-"iya"-an. Bukankah diam tanda setuju. Ini aku ketahui karena mobil mulai berjalan pelan sedikit menepi mencari sesuatu. Sesuatu itu adalah Hotel. Benar juga. Mobil berhenti di depan suatu hotel yang tidak terlalu besar.

"Bandot" itu keluar dulu menuju ke meja resepsionis, dan membayar biaya kamar. Aku merasa seperti seorang pesakitan yang akan dihukum mati karena telah melakukan kejahatan luar biasa. Aku turun dari mobil. Dengan digandeng, aku menuju kamar hotel yang telah dipesan "Bandot Tengik" ini. Siang itu suasana hotel terlihat sepi, tidak terlihat lalu lalangnya tamu. Sampai di depan kamar Pak "Bandot" segera membuka kamar. Tetapi aku tidak segera menyusul. Aku terhenti di depan kamar. Kakiku terasa kaku, badan dingin semua. Jantung berdebar, sementara nafas rasanya mau berhenti. Sungguh aku jadi sangat takut sekali. Serasa mau dimasukkan kamar dengan kursi listrik untuk menghukum penjahat kaliber kakap. Tanpa terasa, kencingku mulai keluar membasahi kaki. Melihat aku tidak juga masuk kamar, "Bandot" itu keluar, memegang lenganku dan menariknya masuk ke kamar. Kini aku berada dibelakang pintu, namun tetap saja tangan dan kakiku kaku, seperti orang kedinginan sehabis kehujanan di jalan. Kemudian terdengar bunyi "klik", "Bandot" itu mengunci kamar. Tapi suara itu di telinga terdengar seperti suara pistol yang dikokang untuk siap ditembakkan. Sudah, sekian dulu teman-teman, mohon diberi skor dan komentar sebelum membaca kisahku bagian ke-2.

Aku masih berdiri mematung di belakang pintu, sementara Pakde Mardi alias "Bandot" Tengik" itu mulai melepaskan pakaiannya satu demi satu. Kini dia sudah telanjang bulat di depanku. Dengan sudut mataku, kuamati sekujur tubuhnya. Perawakan agak pendek, dengan kepala sedikit botak dan rambut keriting tebal, mengingatkan wajah Pak Hikam, Menteri Ristek (maaf ini hanya sekedar perbandingan fisik saja, tanpa maksud apa-apa), namun dengan kesan wajah yang lebih tua. Umur "Bandot" Tengik" ini kutaksir sudah lebih dari 53 tahun. Dadanya ditutupi rambut lebat, mulai bawah leher, dada terus sampai di atas pangkal kemaluannya. Konon kata orang, digumuli dengan orang dengan rambut di tubuh begini akan memberi rasa geli bercampur nikmat. Namun karena yang ada di hadapanku ini adalah seorang pemerkosa, aku merasa akan diperkosa oleh monyet besar atau gorilla. Kemaluannya yang akan segera dihujamkan ke liang kemaluanku panjangnya biasa saja, tetapi bentuknya besar dengan warna hitam kemerahan. Apa batang kemaluan sebesar alu (penumbuk padi) ini tidak akan mengkoyak-koyak liang kemaluanku? Mudah-mudahan tidak. Kepala bayi saja bisa lewat apalagi kemaluan laki-laki, begitu pikirku.

Kini "Bandot Tengik" ini mulai menciumi, melumat bibirku. Kasar sekali. Satu persatu pakaianku dilepaskan. Entah kenapa aku tetap pasif diam dan menurut saja. Sekarang dalam keadaan bugil aku berada dipelukan "Bandot Tua" itu. Sambil mendesakkan bibirnya ke bibirku, badannya mendorong tubuhku ke belakang mepet ke tembok, sehingga tekanan bibir dan badannya terasa kuat sekali. Lalu batang kemaluannya mulai menggelitik kemaluanku. Pangkal kemaluan itu ditekan-tekankan, ada reaksi dari kemaluanku. Bungkem rapat-rapat. Seperti mulutku yang tetap rapat meskipun bibir "Bandot Tengik" menekan sambil diputar-putar di atas bibirku. Saat gelegak nafsu "Bandot Tengik" ini mulai meningkat, bibirku digigit dengan gemasnya. "Aduh Pak, sakit.. aduh.. jangan Pak!" Ciumannya kini menuju ke bawah, leher, daerah belakang telinga, terus ke bawah, di antara buah dada. Tiba-tiba ciumannya dilepaskan. Dia menyempatkan mengamati buah dadaku. "Susumu hebat, Min," (Buah dadaku memang indah, besar, kenyal dan berbentuk kerucut. Di sekitar puting susu yang coklat kehitaman terlihat semburat urat darah kebiruan muda yang seolah terukir di atas "bola" porselin yang putih. Kata suamiku, setiap kali melihat buah dadaku, batang kemaluannya langsung ereksi. Batang kemaluan itu baru mau "tidur" kembali setelah isinya dimuntahkan ke lubang kemaluanku, melewati persetubuhan yang panjang, mengasyikkan dan penuh nikmat).

Kini, bibir "Bandot Tengik" ini dibenamkan di antara kedua buah dadaku. Mencium ke kiri dan ke kanan bergantian. Lalu pentil buah dadaku mulai dihisap-hisap. Mulutnya lebih masuk lagi, sepertinya buah dadaku mau ditelan saja. "Hii.... hhh, hiii..." gumamnya sambil menggigit buah dadaku dengan geramnya, rupanya gemas sekali dia merasakan ranumnya buah kebaggaan suamiku tersebut. "Hiyung... aduuuh... Pak.. sakit, sakit sekali.. Pak.. sudah.. Pak..." aku hanya bisa mengaduh lirih. Kini serangannnya merembet ke bawah. Perut atas, pusar, diciumi, digigit-gigit dengan rakusnya. Terus... terus ke bawah lagi... sampai di bukit kemaluanku. "Bandot Tua" ini rupanya sangat terangsang melihat kemaluanku yang metutuk (mencembung) ke depan seperti roti kokis dengan rambut di sekitar klitoris yang rimbun. Sebab setelah dijilati sebentar, bibir kemaluanku sempat digigit dengan gemas. "Aduh..!" aku tersentak karena sakit.

Lalu pahaku dipeluk satu persatu, dicium, digigit. Kalau aku mengaduh, baru gigitan itu dilepaskan. Bangsat! Rakus benar, setan laknat ini. Demikian umpatku dalam hati. Setelah forepplay ini dianggap cukup, badanku ditarik dan direbahkan dengan paksa ke atas kasur. Dengan kakiku yang terjulur ke bawah, dia menunggangiku. Persis seperti joki kuda balap yang siap memacu kuda balapnya (lihat tulisanku bagian pertama). Batang kemaluannya siap dimasukkan ke lubang kemaluanku. Tetapi bibir lubang kemaluanku rupanya mengkerut (berkontraksi) menutup rapat. Ini akibat sikapku yang me-"reject" (menolak) batang kemaluan asing itu, sehingga timbul Vaginismus. (Vaginismus adalah lubang kemaluan yang mengalami spasmus, yaitu merapat kuat menutup lubangnya sehingga tidak bisa dimasuki batang kemaluan). Gagal, tetapi tidak putus asa. Kini dia menciumiku lagi, kasar dan penuh nafsu. Buah dadaku dipegang dengan kedua telapak tangannya, diperas kuat-kuat, digigit mulai pangkal puting dadaku terus sampai setengah buah dada masuk ke mulutnya. "Uhh... uhhh..." suara kegemasan Pak Mardi.

Rupanya nafsu syahwatnya sudah sampai ke ubun-ubun, sementara batang kemaluannya masih parkir di luar lubang kemaluanku. "Aduhhh... aduh... Pak.. sakit sekali Pak!" teriakku lirih penuh iba. Tetapi akibat kesakitanku itu "kontrol" sarafku ke lubang kemaluan lepas. Lubang kemaluanku sedikit menganga, dan cairannya mulai menetes keluar. Merasa batang kemaluannya terbasahi cairan lubang kemaluanku, "Bandot" ini terlihat lega. Batang kemaluannya coba dimasukkan lagi secara paksa ke lubang kemaluanku. "Blusss..." masuk seluruhnya meskipun aku jadi kesakitan karena bibir lubang kemaluan luar dan dalamnya terlipat-lipat dan terseret ke dalam akibat desakan batang kemaluan. Kini "Bandot" itu seperti menemukan kunci, kunci untuk membuka lubang kemaluanku yang "metutuk", yaitu dengan menyakiti. Karena itu diulangi kekurang-ajarannya dengan menggigit buah dadaku, kiri dan kanan bergantian. Sakit... sekali. Meskipun tidak sampai berdarah, akibat gigitannya terasa perih karena menyisakan jelas (bekas, pingget)di kulitku. Sekarang dia mulai menikmati lubang kemaluanku. Pantatnya mulai dinaik-turunkan dengan kuatnya terutama pada saat diturunkan, seolah batang kemaluannya mau membobol lubang kemaluanku. Dug.. dug... dug... Setiap menghentakkan kemaluannya, tangannya meremas buah dadaku sekeras-kerasnya. "Nurut saja Min, biar sama-sama enak, ya.. toh.." Buiihhh, anjing tua keparat, gumamku dalam hati. Ya, aku heran kenapa aku merasa tidak punya kekuatan apa-apa. Lemah, lunglai, mungkin karena mengalami syok mental. (Padahal dengan suamiku kalau bersetubuh sambil bergulat begini, aku biasa di posisi atas, dan "lumpang"-ku yang justru menjojoh "alu"-nya suamiku. Setiap kali lubang kemaluanku menjojoh, Mas-ku menggelinjang kenikmatan).

Ibarat air yang dimasak, suhunya kini sudah delapan puluh derajat. Ini terlihat dari nafas "Bandot" yang mulai terengah-engah. Dan keringat dari dadanya mulai menetes. Sementara akibat tonjokkan itu, aku sedikit saja menikmatinya, meskipun kenikmatan yang hanya 10% itu terkubur oleh 90% rasa sakit yang kurasakan. Ibarat orang naik motor, kini sudah masuk ke perseneling tiga, sebab makin lama makin cepat gerakan menggenjot-genjot tubuhku. Kulihat mata "Bandot" ini mulai dipejam-melekkan menikmati lubang kemaluanku yang mulai kuat menggigit, merasakan kenikmatan memijat buah dadaku yang indah, putih dan montok. Kadang saja "Bandot" ini terlihat kelelahan, "pause" sebentar dengan merebahkan dadanya ke dadaku, sedang wajahnya "disembunyikan" di samping leherku. Kalau sedang begini, aku hanya dapat berdoa, semoga "Bandot" ini mati mendadak terkena serangan jantung, meskipun urusan dengan polisi nantinya akan sangat ruwet. Ehh... bangun lagi. Malah tambah segar, tentu, setelah lebih kurang satu jam aku disiksa dalam alam surganya "Bandot" ini. Permainan agaknya akan diakhiri, tetapi tiba-tiba "Plak... plak... plak..." pipiku kanan dan kiri ditamparnya kuat beberapa kali. Ini merupakan "kunci" untuk memaksa aku membuka lubang kemaluan.

"Aduh Pak... sakit sekali.. Pak, aku sudah tidak kuat lagi Pak... dibunuh saja aku Pak!" Tapi tentu saja suara itu tak akan terdengar, karena tertutup deru nafsu syahwatnya yang mulai mencapai kecepatan 90 km per jam itu. Gojlokan batang kemaluannya ke lubang kemaluanku makin keras dan cepat, dan aku menggelinjang kesakitan, menggolek-golekkan kepalaku, meronta-ronta mau melepaskan tikaman batang kemaluan "Bandot" ini, tetapi tentu tak akan bisa. Bahkan rambutku yang tersibak ke kiri dan ke kanan di depan wajahku menjadi daya tarik tersendiri (seperti iklan shampoo di TV itu). Rambutku dipegangnya, disapukan ke wajahku, lalu ditaruh di depan wajahku lagi. Setelah itu rambut disibakkan ke pipiku. Dan hidung, bibir, pipiku diciumnya kuat-kuat, sambil sekali-kali digigit. Dan sementara itu penggejotan lubang kemaluanku jalan terus. Wah... pokoknya, ini cara orang barbar menyetubuhi pasangannya. Menyetubuhi sambil menyiksa.

Kini badanku makin bertambah lemas, ingatanku mulai sayup-sayup. Tetapi suhu syahwat "Bandot" ini tambah tinggi, dengan kecepatan diatas 100 km. "Duk.. duk.. duk.." batang kemaluannya makin mengembang dan tetesan keringatnya makin deras, nafasnya makin tersengal, sementara aku meronta-ronta ingin melepaskan diri. Tetapi kekuatanku makin lemah dan akhirnya tak sadarkan diri. Dan tiba-tiba... "Achhh..." Bandot ini mencapai klimaks. Kakinya mengejang lurus, tangannya memeluk leherku sambil menggigit pipiku. Air maninya muncrat dari batang kemaluannya, ditumpahkan ke lubang kemaluanku. Dan tubuhnya lemas jatuh menimpa badanku. Sekian dulu teman-teman, mohon diberi skor dan komentar.


TAMAT

Ayam Goreng


Pada waktu itu aku pulang dari kampus sekitar pukul 20:00 karena ada kuliah malam. Sesampainya di tempat kost, perutku minta diisi. Aku langsung saja pergi ke warung tempat langgananku di depan rumah. Warung itu milik Ibu Sari, umurnya 30 tahun. Dia seorang janda ditinggal mati suaminya dan belum punya anak. Orangnya cantik dan bodynya bagus. Aku melihat warungnya masih buka tapi kok kelihatannya sudah sepi. Wah, jangan-jangan makanannya sudah habis, aduh bisa mati kelaparan aku nanti. Lalu aku langsung masuk ke dalam warungnya.

"Tante..?"
"Eee.. Dik Sony, mau makan ya?"
"Eee.. ayam gorengnya masih ada, Tante?"
"Aduhhh.. udah habis tuch, ini tinggal kepalanya doang."
"Waduhhh.. bisa makan nasi tok nich.." kataku memelas.
"Kalau Dik Sony mau, ayo ke rumah tante. Di rumah tante ada persediaan ayam goreng. Dik Sony mau nggak?"
"Terserah Tante aja dech.."
"Tunggu sebentar ya, biar Tante tutup dulu warungnya?"
"Mari saya bantu Tante."

Lalu setelah menutup warung itu, saya ikut dengannya pergi ke rumahnya yang tidak jauh dari warung itu. Sesampai di rumahnya..
"Dik Sony, tunggu sebentar ya. Oh ya, kalau mau nonton TV nyalakan aja.. ya jangan malu-malu. Tante mau ganti pakaian dulu.."
"Ya Tante.." jawabku.

Lalu Tante Sari masuk ke kamarnya, terus beberapa saat kemudian dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kaos dan celana pendek warna putih. Wow keren, bodynya yang sexy terpampang di mataku, puting susunya yang menyembul dari balik kaosnya itu, betapa besar dan menantang susunya itu. Kakinya yang panjang dan jenjang, putih dan mulus serta ditumbuhi bulu-bulu halus.

Dia menuju ke dapur, lalu aku meneruskan nonton TV-nya. Setelah beberapa saat.
"Dik.. Dik Sony.. coba kemari sebentar?"
"Ya Tante.. sebentar.." kataku sambil berlari menuju dapur.

Setelah sampai di pintu dapur.
"Ada apa Tante?" tanyaku.
"E.. Tante cuman mau tanya, Dik Sony suka bagian mana.. dada, sayap atau paha?"
"Eee.. bagian paha aja, Tante." kataku sambil memandang tubuh Tante Sari yang tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Tubuhnya begitu indah.
"Dik Sony suka paha ya.. eehhhmmm.." katanya sambil menggoreng ayam.
"Ya Tante, soalnya bagian paha sangat enak dan gurih." kataku.
"Aduhhh Dik.. tolong Dik.. paha Tante gatel.. aduhhh.. mungkin ada semut nakal.. aduhhh.."
Aku kaget sekaligus bingung, kuperiksa paha Tante. Tidak ada apa-apa.

"Nggak ada semutnya kok Tante.." kataku sambil memandang paha putih mulus plus bulu-bulu halus yang membuat penisku naik 10%.
"Masak sih, coba kamu gosok-gosok pakai tangan biar gatelnya hilang." pintanya.
"Baik Tante.." lalu kugosok-gosok pahanya dengan tanganku. Wow, begitu halus, selembut kain sutera dari China.
"Bagaimana Tante, sudah hilang gatelnya?"
"Lumayan Dik, aduh terima kasih ya. Dik Sony pintar dech.." katanya membuatku jadi tersanjung.
"Sama-sama Tante.." kataku.
"Oke, ayamnya sudah siap.. sekarang Dik Sony makan dulu. Sementara Tante mau mandi dulu ya." katanya.
"Baik Tante, terima kasih?" kataku sambil memakan ayam goreng yang lezat itu.

Disaat makan, terlintas di pikiranku tubuh Tante Sari yang telanjang. Oh, betapa bahagianya mandi berdua dengannya. Aku tidak bisa konsentrasi dengan makanku. Pikiran kotor itu menyergap lagi, dan tak kuasa aku menolaknya. Tante Sari tidak menyadari kalau mataku terus mengikuti langkahnya menuju kamar mandi. Ketika pintu kamar mandi telah tertutup, aku membayangkan bagaimana tangan Tante Sari mengusap lembut seluruh tubuhnya dengan sabun yang wangi, mulai dari wajahnya yang cantik, lalu pipinya yang mulus, bibirnya yang sensual, lehernya yang jenjang, susunya yang montok, perut dan pusarnya, terus vaginanya, bokongnya yang montok, pahanya yang putih dan mulus itu. Aku lalu langsung saja mengambil sebuah kursi agar bisa mengintip lewat kaca di atas pintu itu. Di situ tampak jelas sekali.

Tante Sari tampak mulai mengangkat ujung kaosnya ke atas hingga melampaui kepalanya. Tubuhnya tinggal terbalut celana pendek dan BH, itu pun tak berlangsung lama, karena segera dia melucutinya. Dia melepaskan celana pendek yang dikenakannya, dan dia tidak memakai CD. Kemudian dia melepaskan BH-nya dan meloncatlah susunya yang besar itu. Lalu, dengan diguyur air dia mengolesi seluruh tubuhnya dengan sabun LUX, lalu tangannya meremas kedua susunya dan berputar-putar di ujungnya. Kejantananku seakan turut merasakan pijitannya jadi membesar sekitar 50%. Dengan posisi berdiri sambil bersandar tembok, Tante Sari meneruskan gosokannya di daerah selangkangan, sementara matanya tertutup rapat, mulutnya menyungging.

Beberapa saat kemudian...
"Ayo, Dik Sony.. masuk saja tak perlu mengintip begitu, kan nggak baik, pintunya nggak dikunci kok!" tiba-tiba terdengar suara dari Tante Sari dari dalam. Seruan itu hampir saja membuatku pingsan dan amat sangat mengejutkan.
"Maaf yah Tante. Sony tidak sengaja lho," sambil pelan-pelan membuka pintu kamar mandi yang memang tidak terkunci. Tetapi setelah pintu terbuka, aku seperti patung menyaksikan pemandangan yang tidak pernah terbayangkan. Tante Sari tersenyum manis sekali dan..
"Ayo sini dong temani Tante mandi ya, jangan seperti patung gicu?"
"Baik Tante.." kataku sambil menutup pintu.
"Dik Sony.. burungnya bangun ya?"
"Iya Tante.. ah jadi malu saya.. abis Sony liat Tante telanjang gini mana harum lagi, jadi nafsu saya, Tante.."
"Ah nggak pa-pa kok Dik Sony, itu wajar.."
"Dik Sony pernah ngesex belum?"
"Eee.. belum Tante.."
"Jadi, Dik Sony masih perjaka ya, wow ngetop dong.."
"Akhhh.. Tante jadi malu, Sony."

Waktu itu bentuk celanaku sudah berubah 70%, agak kembung, rupanya Tante Sari juga memperhatikan.
"Dik Sony, burungnya masih bangun ya?"
Aku cuman mengangguk saja, dan diluar dugaanku tiba-tiba Tante Sari mendekat dengan tubuh telanjangnya meraba penisku.
"Wow besar juga burungmu, Dik Sony.." sambil terus diraba turun naik, aku mulai merasakan kenikmatan yang belum pernah kurasakan.

"Dik Sony.. boleh dong Tante liat burungnya?" belum sempat aku menjawab, Tante Sari sudah menarik ke bawah celana pendekku, praktis tinggal CD-ku yang tertinggal plus kaos T-shirtku.
"Oh.. besar sekali dan sampe keluar gini, Dik Sony." kata Tante sambil mengocok penisku, nikmat sekali dikocok Tante Sari dengan tangannya yang halus mulus dan putih itu. Aku tanpa sadar terus mendesah nikmat, tanpa aku tahu, penisku ternyata sudah digosok-gosokan diantara buah dadanya yang montok dan besar itu. "Ough.. Tante.. nikmat Tante.. ough.." desahku sambil bersandar di dinding.

Setelah itu, Tante Sari memasukkan penisku ke bibirnya, dengan buasnya dia mengeluar-masukkan penisku di mulutnya sambil sekali-kali menyedot, kadang-kadang juga dia menjilat dan menyedot habis 2 telur kembarku. Aku kaget, tiba-tiba Tante Sari menghentikan kegiatannya. Dia pegangi penisku sambil berjalan ke arah bak mandi, lalu Tante Sari nungging membelakangiku, sebongkah pantat terpampang jelas di depanku.

"Dik Sony.. berbuatlah sesukamu.. kerjain Tante ya?!"
Aku melihat pemandangan yang begitu indah, vagina dengan bulu halus yang tidak terlalu lebat. Lalu langsung saja kusosor vaginanya yang harum dan ada lendir asin yang begitu banyak keluar dari vaginanya. Kulahap dengan rakus vagina Tante Sari, aku mainkan lidahku di klitorisnya, sesekali kumasukkan lidahku ke lubang vaginanya.

"Ough Sonnn.. ough.." desah Tante Sari sambil meremas-remas susunya.
"Terus Son.. Sonnn.." aku semakin keranjingan, terlebih lagi waktu kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya ada rasa hangat dan denyut-denyut kecil semakin membuatku gila.

Kemudian Tante Sari tidur terlentang di lantai dengan kedua paha ditekuk ke atas.
"Ayo Dik Sony.. Tante udah nggak tahan.. mana burungmu Son?"
"Tante udah nggak tahan ya?" kataku sambil melihat pemandangan demikian menantang, vaginanya dengan sedikit rambut lembut, dibasahi cairan harum asin demikian terlihat mengkilat, aku langsung menancapkan penisku di bibir vaginanya.
"Aoghhhh.." teriak Tante Sari.
"Kenapa Tante..?" tanyaku kaget.
"Nggak.. Nggak apa-apa kok Son.. teruskan.. teruskan.."
Aku masukkan kepala penisku di vaginanya.
"Sempit sekali Tante.. sempit sekali Tante?"
" Nggak pa-pa Son.. terus aja.. soalnya udah lama sich Tante nggak ginian.. ntar juga enak kok.."
Yah, aku paksa sedikit demi sedikit, baru setengah dari penisku amblas. Tante Sari sudah seperti cacing kepanasan menggelepar kesana kemari.

"Ough.. Son.. ouh.. Son.. enak Son.. terus Son.. oughhh.." desah Tante Sari, begitu juga aku walaupun penisku masuk ke vaginanya cuman setengah tapi kempotannya sungguh luar biasa, nikmat sekali. Semakin lama gerakanku semakin cepat, kali ini penisku sudah amblas dimakan vagina Tante Sari. Keringat mulai membasahi badanku dan badan Tante Sari.

Tiba-tiba Tante Sari terduduk sambil memelukku dan mencakarku.
"Oughhh Son.. ough.. luar biasa.. oughhh.. Sonnn.." katanya sambil merem melek.
"Kayaknya aku mau orgasme.. ough.." penisku tetap menancap di vagina Tante Sari.
"Dik Sony udah mau keluar ya?"
Aku menggeleng, kemudian Tante Sari terlentang kembali. Aku seperti kesetanan menggerakkan badanku maju mundur, aku melirik susunya yang bergelantungan karena gerakanku, aku menunduk, kucium putingnya yang coklat kemerahan. Tante Sari semakin mendesah, "Ough.. Sonnn.." tiba-tiba Tante Sari memelukku sedikit agak mencakar punggungku.

"Oughhh.. Sonnn.. aku keluar lagi..."
Vaginanya kurasakan semakin licin dan semakin besar, tapi denyutannya semakin kerasa. Aku dibuat terbang rasanya. Ah, rasanya aku sudah mau keluar. Sambil terus goyang, kutanya Tante Sari.
"Tante.. aku keluarin di mana Tante..? Di dalam boleh nggak..?"
"Terseraaahh.. Sooonnn..." desah Tante Sari.
Kupercepat gerakanku, burungku berdenyut keras, ada sesuatu yang akan dimuntahkan oleh penisku. Akhirnya semua terasa enteng, badanku serasa terbang, ada kenikmatan yang sangat luar biasa. Akhirnya kumuntahkan laharku dalam vagina Tante Sari, masih kugerakkan badanku dan rupanya Tante Sari orgasme kembali lalu dia gigit dadaku, "Oughhh.."

"Dik Sony.. Sonnn.. kamu memang hebat..."
Aku kembali mangenakann CD-ku serta celana pendekku. Sementara Tante Sari masih tetap telanjang, terlentang di lantai.
"Dik Sony... kalo mau beli makan malam lagi yah... jam-jam sekian aja ya.." kata Tante Sari menggodaku sambil memainkan puting dan klitorisnya yang masih nampak bengkak.
"Tante ingin Dik Sony sering makan di rumah Tante ya.." kata Tante Sari sambil tersenyum genit.
Kemudian aku pulang, aku jadi tertawa sendiri karena kejadian tadi. Ya gimana tidak ketawa cuma gara-gara "Ayam Goreng" aku bisa menikmati indahnya bercinta dengan Tante Sari. Dunia ini memang indah.

Axe versi Dante




Anda masih ingat iklan AXE? Dimana seorang lelaki dan wanita yang bertemu dalam lift, saling memandang, si wanita dengan pandangan begitu horny sambil menggigit bibir bawahnya. Sementara si cowo juga memandang, mendeteksi kemungkinan tuk menggarap wanita yang bersamaan dengannya di dalam lift tersebut.

Well, kisah itu tidak berlebihan jika hanya merupakan sebuah iklan komersial. Tapi bagaimana jika kukatakan bahwa aku pernah mengalaminya? Almost real, selain bahwa aku memang suka mengkhayal.

Saat itu, pukul 3 pagi. Sekembalinya aku dari sebuah club malam di Singapore. Sangat mabuk, aku ingat. Dan dalam perjalanan pulang itu, aku diantar oleh temanku. Duduk di bagian belakang dengan keadaan antara sadar dan tidak. Seorang Singaporean girl teman kencanku, mengulum bibirku dalam ciuman panjang, satu jemarinya meremas kuat batang kemaluanku yang juga menantang keras melawan remasannya. Dan aku semakin melayang, terbanting keras ke kiri-kanan, dengan deru kendaraan yang menerjang setiap tikungan dengan kecepatan tinggi.

Kulepaskan ciuman panjang yang menyesakkan nafas itu dengan sedikit kasar. Pengaruh alkohol membuatku tidak merasakan kenyamanan lidahnya dalam rongga mulutku. Selain bantingan kuat saat mobil itu menikung tajam.

Semakin payah rasanya tubuhku menghadapi serangan mabuk yang mendera. Hingga kurebahkan tubuhku mendominasi hampir keseluruhan panjang jok belakang. Wanita Singapore itu berlutut di sisiku, memasukkan dengan segera keseluruhan penisku dalam lumatan kuat bibirnya. Tidak pernah kusadari, kapan dia membuka restleting celanaku.

Desahanku menggelegar, membuatku jadi perhatian gadis manis pacar temanku yang duduk di bagian depan, entah bagaimana perasaannya menyaksikan adegan dimana aku menggeliat dan mengerang dengan bebas, menikmati penisku yang mengejang dalam hisapan dan jilatan temannya.

Dalam keadaan mabuk, kenakalanku tetap hadir. Sengaja tidak kubiarkan gadisku mengulum habis penisku, tapi hanya menjilati bagian luarnya saja. Dengan menempatkan jariku disana, seakan ikut mengocok, sambil sesekali meremas buah zakarku. Yang sebenarnya kumaksudkan untuk dapat menjadi tontonan yang lebih menarik dalam pandangan gadis manis di bangku depan. Dia terus melirik dan aku menikmatinya, antara sadar dan tidak.

Tiba-tiba, setengah terbanting, aku terlepas dari fantasi kenikmatanku sendiri, bersamaan dengan lepasnya penisku dari kuluman erat si gadis, saat mobil yang kutumpangi berhenti mendadak di tengah laju kencangnya.
“Damned...” aku mengutuk keras. Mungkin ini adalah malam terburuk yang kualami. Sambil mendongakkan kepala dengan mata yang berkunang kunang, memandang berkeliling, mencoba mengenali lingkungan tempat kami berada.

Temanku tertawa-tawa membukakan pintu, baru aku menyadari sepenuhnya kalau aku telah tiba di apartmentku.

Dibantunya aku turun dari mobil itu. Dengan masih memapahku, memberikan kesempatan padaku untuk dapat menguasai diri dan berdiri tegak. Aku hanya terfokus pada wajah manis gadis Singapore yang tidak lama berselang asik menikmati penisku, memandang jauh ke dalam lubuk hatinya. Melihat sesuatu yang hilang, geliat dari kesenangannya yang tidak terselesaikan. Pandangannya mungkin menantikan undangan untuk menginap di apartmentku. Tapi, aku mungkin terlalu mabuk tuk mengundangnya, hihihi

Aku membalikkan badan, menggumamkan lagu yang tak jelas, dan berjalan terseok-seok. Tidak kupedulikan deru mobil yang bergerak meninggalkanku, diikuti oleh pandangan gadis yang kecewa karena sikap masa bodohku. Aku terbawa dalam alunan lagu yang mendesah, yang secara perlahan keluar dari bibirku tanpa kuperintahkan. Semakin lama, semakin jelas dan kukenali pula sosok yang menanamkannya ke dalam kepalaku. Sebuah lagu kenangan, pemberian dari seorang gadis. A Different Corner.

I would promise you all of my life
But to lose you would cut like a knife
So I don't dare, no I don't dare
La.. la.. I’m so scared.... of this love...
La.. la... you’re the only one who’ll stop my tears...

Tiba-tiba sebuah sorot lampu dari mobil lain menghentikan dendang laguku yang tidak jelas urutannya. Aku membalikkan badan perlahan, menyipitkan mata, memandang dalam silaunya. Hingga lampu mobil itu dipadamkan dan aku menikmati sosok bergaun merah itu bergerak keluar dari mobilnya. Aku terpana, rambutnya yang disanggul ke atas, jatuh beberapa helai di depan wajahnya.
Hihi.. Tuhan mengirimkan lagi seorang bidadarinya. Aku tertawa riang menikmati malamku.

Kemudian senyum juga kembali berganti menghiasi ujung bibirku, saat kecantikan, bahkan keanggunannya tertutupi oleh langkahnya yang juga tidak membumi, terseok-seok seakan melayang di atas tanah.

Hihi.. Aku nyengir, mengingatkan diriku sendiri yang dalam kondisi yang sama. Saat dia terhuyung ke arahku dengan senyumnya.
“Mungkin kita bisa saling bantu, tuk bisa sampai ke atas sana” aku mengomentarinya. Dia memang tersenyum lucu, tapi terasa menggemaskan senyum itu dalam pandanganku.

Aku menjajari langkahnya menuju lift yang terbuka pintunya. Saling cengar-cengir mabuk, kita berjalan bersamaan memasuki lift. Dengan yakin kutekan tombol 36 yang merupakan puncak tertinggi dari apartment itu tanpa maksud berlebihan, hanya keinginan tuk lebih lama bersamanya. Sementara dia tampaknya tidak peduli atau mungkin terlena dalam pengaruh alkohol. Bersandar pada masing-masing satu sisi dinding, saling bertukar pandang. Dia menggigit bibir bawahnya, sementara mataku (mata Dante yang hornynya belum tuntas hueeheuheueheuehue) menantang balik.
Pandangannya tajam ke arah bawah tubuhku, yang membuatku mengikuti pandangannya, meneliti tubuhku sendiri.

Hihi.. Aku nyengir dengan mimik lucu, saat menyadari kalau seluruh kancing bajuku terbuka bebas, dengan celana yang agak turun karena tidak dikancingkan dengan sempurna. Menekukkan sedikit tulang punggungku untuk ikut serta memperhatikan tatoo naga yang terekspos bebas tepat di atas bulu pubisku.
“Untung penisku sudah kembali beringsut ke balik celana dalam” pikirku geli. Kemudian dengan masih nyengir pandanganku bertemu dengannya yang masih menggigit bibir bawahnya. Pipi dan hidungnya yang bersemu merah terlihat kontras dengan kulit wajahnya yang putih. Aku ikut terbawa suasana itu, seketika senyuman hilang dari wajahku.

Kita saling meneliti, dia dalam pikirannya, dan aku menjajaki kemungkinan tuk menyerbu ke dalam pelukannya, menuntaskan gairah yang tak terselesaikan tadi.

Dia membusungkan dada, memenuhinya dengan oksigen, mencoba mengatasi perasaannya. Kemudian pandangannya kembali pada bagian bawah tubuhku, sementara kudongakkan kepalaku untuk menantangnya, dengan lirikan tajam tetap pada belahan buah dadanya.
Semakin nakal, perlahan kutarik turun restleting yang menutupi sebagian dari keseluruhan tatoo itu. Tanpa menunggu aku menggodanya lebih jauh. Dia melangkah pelan mendekatiku yang hanya bertahan pada dinding tempat aku bersandar.

Hei... Dia meraba tatoo itu mengikuti restleting yang turun, menggantikan tanganku. Menggelitik sebentar di bagian lidah naga yang merah menjulur ke bawah, sebelum menyusup lebih dalam, melewati bulu pubis, langsung pada penisku. Memang belum sempat dia menggeliat bangun, tapi aku percaya mungkin dia akan tergoda tuk memberinya kecupan perkenalan dan kemudian penisku akan bergerak bangun saat dalam kuluman bibir nakalnya.

Kuyakin dia akan tersenyum senang, merasakannya memenuhi rongga mulutnya secara perlahan. Bergerak mendesak, membesar dan masuk semakin ke dalam. Begitu khayalku menari, dalam ke-diam-anku.

Sementara dia hanya mengecup bibirku pelan, dan membiarkannya saling bersentuhan tanpa lumatan. Bola matanya tajam meneliti ke dalam hatiku lewat tatapanku yang stunning, dari jarak yang begitu dekat. Nafasnya berat menyapu keseluruhan wajahku. Lamat lamat masih kuingat aroma menthol yang menguar dari mulutnya yang bersaput lipstik merah maroon (apa yang diminumnya tadi, grasshopper??).

Mungkin bola api gairah ditemukannya dalam mataku, ataukah dia melihat juga khayalku menari di dalam sana, hingga akhirnya dia bergerak turun dan memenuhi khayalku tadi. Persis seperti yang aku bayangkan, dan memang persis, persis begitu yang terjadi. Bagaimana penisku bergerak, mengembang perlahan dalam jilatan bibir seksinya. Aku mulai mengerang kembali dalam kenikmatan dan bersyukur kalau lift tua ini bergerak cukup pelan tuk sampai ke puncak gedung.

Sedikit kasar aku menariknya berdiri dan langsung menyerbu mengulum bibirnya, kami berciuman dengan gairah yang tak tertahankan. Berat tubuhku mendorongnya berpindah, setengah terhuyung dan terbanting, bersandar pada dinding lainnya. Lidahnya menari, mengarungi kedalaman mulutku, sesekali lidah itu menegang dalam hisapan kuat yang kulakukan. Suara lenguhannya menyanyikan kepasrahan. Tangannya pun tak tinggal diam, meremas kuat pada batang penisku, seakan ingin membalas perlakuanku. Kedua bukit buah dadanya menyembul keluar dari belahan rendah gaunnya, memerah dalam remasan kuat jemariku.

“Tingggg...” suara lift yang berbunyi sejenak sebelum pintu akan terbuka menyadarkan kami. Kurapatkan tubuhnya pada sudut samping pintu, mengawasi keadaan. Seperti dugaanku kalau suasana memang sepi. Segera kutekan angka satu dan kembali kotak lift itu meluncur pelan ke bawah.

Kali ini, aku bergerak cepat. Menyingkapkan belahan gaunnya, menarik turun secarik kain hitam berenda yang tampak indah membungkus bagian pinggulnya. Jariku mencari liang basah yang ingin segera kutembusi, sementara dia menendang turun celana yang masih tersangkut pada lututnya.

Perlahan kutempatkan penisku disana, kuangkat satu tungkainya, melingkarkannya pada pinggangku dan dengan satu hentakan kuat, penisku menerjang masuk.
“Akkkkkkkkhhhhhhhhh...........” ia menjerit, matanya terbeliak oleh hentakan kuat yang tidak diduganya. Lalu dijambaknya rambutku dan menarik kepalaku ke dalam belahan payudaranya. Tak kusia-siakan apa yang terhidang didepan mataku, kuhisap dan kugigit gigit kecil puting payudaranya yang segera mengacung tegak oleh sayatan lidahku, sementara dia semakin liar dengan jeritan-jeritan kecil dan remasan remasan tangannya pada rambutku.

Masih pada satu sudut dalam lift itu dia bersandar.. Kemudian ketika berat tubuhnya menekan kebawah, dengan satu hentakan kuat di pinggul, penisku kembali menerjang kuat ke dalam liang vaginanya, sekaligus mengangkat keseluruhan tubuhnya. Satu kakinya yang semula menjejak lantai, terangkat. Segera kuraih, tuk kemudian juga kutempatkan pada pinggangku.

Sekarang, dengan kedua tungkainya menjepit pingangku dan tubuhnya yang bersandar pada dinding, aku terus mendesaknya dalam terjangan kuat penisku. Beberapa kali teriakan histeris dari orgasmenya yang hadir terlalu dini, tidak kupedulikan. Suasana seperti ini memang tidak tertahankan untuk permainan panjang. Terlalu besar sensasi kenikmatan yang hadir. Pandangannya semakin sayu, nafasnya tinggal satu-satu. Kuhentikan sejenak gerakanku, membiarkan kepalanya terkulai pada bahuku.

Aku menantikan pintu lift yang kembali akan terbuka, menjelang tiba di lantai dasar. Segera ketika angka 36 kembali kutekan, wajahku sudah terbenam dalam leher jenjangnya. Hentakan kuat penisku kembali menekan klitorisnya, dibantu dengan tekanan dari berat tubuhnya.

Keadaan mabuk membuatku terasa begitu jantan. Dengusan nafasku semakin tak karuan. Sensasi ini begitu indah, dengan hentakan yang begitu kuat. Otakku terasa mati, aku tak mampu berpikir. Aku hanya bisa menjerit saat terasa badai itu akan segera menghantamku. Sementara dia bergerak semakin cepat, menarikan tubuhnya. Pinggulnya bergerak kuat, menekan dengan jepitan ke dua tungkainya. Tubuhnya terhentak-hentak di dinding lift itu, sementara tangannya menggapai-gapai mencari tempat tuk bertumpu. Kesemua gerakannya menggodaku tuk melepaskan orgasmeku.

“Haaarrggghhhh.........” aku yakin suaraku terdengar menggelegar dalam ruang sempit itu. Dan ikut memacu birahinya tuk segera menyusul dalam orgasmenya sendiri.
Sperma hangatku menerjang dinding rahimnya, diiringi oleh teriakannya yang tertahan dan tubuhnya yang mengejang.

Kepalaku terdongak, membiarkan sinar lampu neon di ceiling itu memasuki otakku lewat mata. Dan perlahan membiaskan warna putih bersih, membuatku terasa melayang. Tidak terasa beban berat tubuhnya dalam rengkuhanku. Seperti melayang dalam udara hampa. Dan di sana, gadis ini melayang bersamaku, telanjang. Aku tersenyum memandang tubuh indahnya yang berkilat basah oleh keringat.

Perlahan, diantara ketidaksadaran, kami bergerak turun dari posisi berdiri tadi. Dan berakhir dengan terduduk pada lantai di satu sudut, berpelukan. Kepalanya disembunyikan dalam dadaku dan semakin erat ia kurengkuh.

“Hi... aku Dante” bisikku sambil mengelus rambut yang terurai lepas dari sanggulnya. Dia tersenyum, manis sekali. Membuatku ikut menyunggingkan senyum membalasnya, saat dia mendongakkan kepalanya, dan menjawab, “Aku Serena”. Pandangannya lama, membius. Hingga kuakhiri dengan kecupan lembut pada bibirnya yang masih tersenyum.

Aku ingat, kalau kami masih terduduk disana untuk waktu yang lama. Pintu lift terbuka lebar, dan udara malam yang dingin, di lantai 36 menerpa masuk, memaksanya kembali mengeliat manja dalam pelukanku. Terlalu malas tuk bergerak bangun.

“15th floor” aku bergumam, tentang letak apartmentku. Sambil semakin merapatkan tubuhnya, dia menjawab, “Third floor” tapi kami tidak bergerak. 36th floor tampaknya menjadi tempat yang lebih indah.

TAMAT

Asyiknya jadi instruktur

Kejadian ini aku alami saat aku masih bekerja part-time di salah satu lembaga pendidikan komputer di Jakarta. Waktu itu salah seorang temanku ada yang menawarkan lowongan di tempat tersebut sebagai instruktur komputer part-time. Aku pikir boleh juga, toh mata kuliahku juga tinggal sedikit sehingga dalam seminggu paling cuma dua hari kuliah. Sisanya ya nongkrong di tempat kost atau jalan sama temen-temen.

Kira-kira di bulan ketiga aku menjadi instruktur, aku mendapat murid yang mengambil kelas privat untuk Microsoft Office for Beginner. Sebetulnya aku paling malas mengajar beginner di kelas privat. Toh kalo cuma pengenalan ngapain mesti privat. Kalo advanced sih ketauan. Hampir saja aku tolak kalau waktu itu aku tidak melihat calon muridku tersebut.

Namanya Felice, siswi kelas tiga SMU di salah satu sekolah swasta yang cukup borju di Jakarta. Secara tak sengaja aku melihatnya mendaftar diantar maminya, saat aku mau mengambil beberapa CD di ruang administrasi. Tubuh Felice terbilang tinggi untuk gadis seusianya, mungkin sekitar 168 cm (aku mengetahuinya karena saat dia berdiri tingginya kira-kira sedaguku, sementara tinggiku 182 cm) dengan berat mungkin 45-an kg. Kulitnya putih bersih, wajahnya oval dengan kedua mata yang cukup tajam, hidung yang mancung dan bibir yang mungil. Rambut coklatnya yang dihighlight kuning keemasan tergerai sebatas tali bra.

Felice cukup cepat menangkap materi yang kuberikan. Materi beginner yang sedianya diselesaikan 24 session, dituntaskan Felice hanya dengan 19 session. Apa boleh buat, sisa waktu yang ada hanya bisa kugunakan untuk memberinya latihan-latihan, karena kebijakan dari lembaga pendidikan tidak memperbolehkan murid mengakhiri term meskipun materi telah selesai. Aku juga tidak diperbolehkan memberi materi yang lebih dari kurikulum yang diambil si murid. Ya sudah, aku hanya menjaga integritas saja.

Di sisa session, sambil latihan aku banyak mengobrol dengan Felice. Gadis manis itu sangat terbuka sekali denganku. Felice cerita mulai dari keinginannya kursus untuk persiapan kuliah di bidang kesekretarisan nanti, tentang pacarnya, keluarganya yang jarang memberinya perhatian karena kedua orang tuanya sangat sibuk, sampai urusan... ehm seks. Aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa Felice sudah mulai berhubungan seks semenjak kelas tiga SMP dengan pacarnya yang berusia 7 tahun lebih tua darinya. Semenjak itu Felice merasa ketagihan dan selalu mencari cara untuk memuaskan nafsunya. Dia pernah pacaran dengan 4 cowo sekaligus hanya untuk mendapatkan kepuasan seksnya.

Kami saling bertukar cerita. Dan Felice juga terkejut ketika mengetahui bahwa hubungan badanku yang pertama malah dengan ibu kost. Kami pun banyak bertukar pengalaman. Sampai akhirnya Felice telah menyelesaikan term kursusnya, kami tetap kontak lewat telephone.

Suatu ketika Felice memintaku untuk mengajar di rumahnya. Rupanya setelah mahir menggunakan Microsoft Office, banyak teman-teman sekolahnya yang tertarik ingin belajar juga. Felice pun menawarkan mereka untuk ‘main belakang’. Karena biaya kursus di lembaga tempatku mengajar cukup mahal, Felice mengajak teman-temannya untuk membayarku mengajar di rumahnya dengan separuh harga. Sementara mereka minta kepada orang tua mereka harga kursus di lembaga.

Felice and the gank ada enam orang termasuk Felice sendiri. Dan aku baru tahu bahwa mereka korban kesibukan orang tuanya masing-masing. Yah, tipikal anak-anak metropolitan yang diberi kasih sayang hanya dengan uang. Angie, Vanya, Sisil, Lala dan Ike adalah teman-teman sekolah Felice. Seru juga ngajarin mereka. Kadang aku mesti meladeni candaan mereka, atau rela menjadi bahan ledekan (karena hanya aku yang cowo).

Hari itu baru jam 11 ketika Felice meneleponku. Dia memintaku untuk datang lebih cepat dari waktu belajar biasanya. Aku oke-oke saja karena waktunya memang cocok. Jam 2 aku sudah berada di rumah Felice.
“Tumben Fel, jam segini udah nyuruh gue dateng.” tanyaku.
“Iya, lagi bete...” jawabnya dengan wajah agak kusut. Aku mengacak-acak rambutnya pelan, lalu mencubit hidungnya.
“Kenapa nih? Cerita dong...” Felice tersenyum sambil mencubit pinggangku. Tiba-tiba gadis itu menarik lenganku dan mengajak ke kamar tidurnya.
“Hei..hei.. apa-apaan nih..” seruku.
“Nggak apa-apa hihihi....” Felice terus menarikku hingga ke atas ranjangnya. Tanpa pikir panjang lagi aku segera merengkuh tubuh langsingnya yang terbungkus kaus ketat dan celana pendek. Aku lumat bibir mungilnya yang lembut.
“Mmmhh... mmm...” bibir kami saling melumat. Felice kelihatan asyik sekali menikmati bibirku. Kedua tangannya sampai meremas rambutku. Sementara kedua tanganku masuk dari bawah kaus untuk merengkuh payudaranya yang masih terbungkus bra. Ugh.. bulat sekali, bentuknya betul-betul sempurna. Aku meremas-remas payudara Felice. Gadis itu semakin bernafsu. Lidahnya semakin liar menjelajahi mulutku, dan remasan tangannya semakin erat.

Tanpa aku minta Felice melepas sendiri kaus yang ‘mengganggunya’ berikut dengan bra-nya. Hmm.. terlihat jelas sudah dua gundukan payudaranya yang bulat dan montok. Yang aku heran kenapa kedua puting susunya masih berwarna merah muda. Padahal Felice cerita bahwa dia sudah sering sekali berhubungan badan. Tanpa ampun aku langsung menyambar payudaranya dengan mulutku. Lidahku menari-nari lincah mengikuti lekukan payudaranya yang indah.

“Sshh.. Riiooo..... aaahhh...” Felice mendesah keasyikkan. Kepalaku dipeluk erat ke dadanya. Upss.. hampir aku sesak nafas dibuatnya. Lidahku terus bermain di kedua payudaranya. Juga putingnya. Hhmm.. nikmat sekali, putingnya betul-betul kenyal. Aku menggigitinya pelan-pelan untuk memberikan sensasi di puting Felice.
“Aahh.. Yoooo....” tubuh Felice menggelinjang menahan rasa nikmat. Kami saling berpelukan erat, dan tubuh kami bergulingan tak karuan di atas ranjang. Gairah Felice semakin memuncak. Dengan liar gadis itu mencopoti semua kancing bajuku dan menanggalkannya dari tubuhku.
“Uuhh.. awas ya, sekarang gantian..” katanya. Aku diam saja ketika Felice dengan penuh hasrat melepas celana panjang dan celana dalamku. Tubuhku sudah bugil tanpa busana.

Dengan penuh nafsu, Felice langsung menyambar batang penisku yang mulai mengeras, dan mengisapnya. Aku tersenyum melihat gayanya yang buas. Aku sedikit memiringkan tubuhku agar bisa mencapai celana pendeknya. Tanpa kesulitan aku melepas celana pendeknya dari tubuh Felice, sekaligus dengan celana dalamnya. Hmm.. paha gadis itu benar-benar putih dan mulus. Aku segera merangkul kedua pahanya untuk melumat kemaluan Felice yang tersembunyi di pangkal pahanya.

Kami ‘terjebak’ dalam posisi 69. Dengan liar lidahku menjelajahi permukaan vagina Felice. Jemari-jemariku membantu membeleknya. Aahh.. aroma khas itu langsung tercium. Aku langsung mengulum klitoris Felice yang seolah melambai padaku.
“Uughhhh.. aahhh... Yooo.... gila lo.... aahhh...” Felice sampai menghentikan kulumannya di penisku untuk meresapi kenikmatan yang kuberikan di vaginanya. Aku tak mempedulikan desahan Felice yang keasyikan, lidahku semakin liar menjelajahi vaginanya. Klitoris Felice sampai basah mengkilat oleh air liurku.
Tak tahan oleh kenikmatan yang kuberikan lewat mulut, Felice segera bangkit dari posisinya dan memutar tubuhnya yang indah. Dalam sesaat saja tubuh putih mulus itu telah menindih tubuhku. Kedua tangannya bertumpu di ranjang mengapit leherku.
“Come on Yo.. give me the real one.... ssshhhh...” desahnya penuh nafsu sambil mendekatkan vaginanya ke batang penisku. Aku membantunya dengan menuntun penisku untuk masuk ke dalam liang kenikmatan itu. Ssllppp... bbleeessss...
“Sshh... sshhh.... oooohhh.... Yoo....” Felice merintih keasyikan seiring dengan tubuhnya yang naik turun. Sementara kedua tanganku asyik memainkan kedua puting susunya yang kenyal. Bibir mungil Felice yang terus mendesah kubungkam dengan bibirku. Lidahku bermain menjelajahi rongga mulutnya. Tubuh Felice mulai menggelinjang menahan kenikmatan yang kuberikan dari segala arah. Pantatnya semakin cepat naik-turun.

Dengan gemas aku memeluk tubuh indah itu, dan berguling ke arah yang berlawanan. Sekarang aku yang menguasai permainan. Felice merentangkan kedua belah kakinya yang putih mulus itu. Tanpa ampun aku kembali menghujamkan batang penisku yang sudah basah ke dalam vaginanya. Felice kembali merintih tak karuan. Sementara kedua tanganku bergerilnya menjelahai pahanya yang mulus. Dengan jemariku aku berikan sensasi di sekitar paha, pantat dan selangkangan Felice. Tubuh Felice semakin menggelinjang. Gadis itu tak kuasa lagi menahan nikmat yang dirasakannya. Dinding vaginanya mulai berdenyut.

“Riooo... sshhhh.... aahhhhh....” akhirnya Felice mencapai klimaksnya. Cairan kewanitaannya membanjiri penisku di dalam sana. Tubuhnya langsung tergolek pasrah. Aku tersenyum melihat ekspresinya. Tiba-tiba Felice merengkuh leherku dan mendekatkan ke wajahnya.
“Awas ya, bentar lagi tunggu pembalasan gue..” desahnya dengan nada menantang.
“Coba kalo bisa, gue mau liat...” jawabku balik menantang seraya mengecup bibirnya. Kemudian kami bersih-bersih bersama di kamar mandi. Aku dan Felice mengulangi lagi permainan tadi di kamar mandi, dan untuk kedua kalinya gadis manis itu mencapai klimaksnya.

Sekitar jam setengah empat sore sebenarnya waktu belajar akan dimulai, namun Felice memaksaku untuk melakukannya sekali lagi di ranjangnya. Gadis itu penasaran sekali karena aku belum mencapai klimaks. Semula aku menolak karena takut sebentar lagi yang lain datang. Namun Felice membungkam mulutku dengan puting susunya. Apa boleh buat, kami kembali melanjutkan permainan.

Benar saja, sepuluh menit sebelum jam empat tiba-tiba pintu kamar terbuka. Rupanya kami baru sadar kalau pintu depan dari tadi tidak dikunci. Sisil dan Ike yang baru saja datang langsung nyelonong ke kamar setelah tidak mendapatkan Felice di ruangan lain.

“Hei... gila lo berdua..!!!!” Sisil menjerit heboh. Aku dan Felice yang sedang dalam posisi doggie style terkejut dengan kedatangan mereka. Aku menatap Felice dengan bingung, tapi gadis itu tenang-tenang saja.
“Aduh Fel, lo kok gak bilang-bilang sih kalo mo barbequean... ajak-ajak dong..” cetus Ike tak kalah hebohnya. Felice menanggapi dengan tenang.
“Udah nggak usah ribut, lo join aja langsung sini..” tanpa dikomando dua kali kedua gadis itu langsung melepas pakaiannya dan bergabung dengan aku dan Felice di ranjang. Hmmm... aroma sabun dan shampoo yang masih segar segera tercium karena mereka berdua baru saja mandi.

Entah kenapa hari itu Angie, Vanya dan Lala kebetulan tidak datang. Angie sempat menelpon untuk memberitahu bahwa dia harus mengantar kakaknya ke dokter. Vanya ada acara weekend dengan keluarganya, sehingga harus berangkat sore itu juga. Sedangkan Lala tidak ada kabar.

Hari itu otomatis tidak ada session. Kami berempat bersenang-senang di kamar Felice sampai menjelang malam. Aku sempat tiga kali mencapai klimaks. Yang pertama saat dengan Felice, tapi aku harus membuang spermaku di mulutnya karena Felice tidak mau ambil resiko. Klimaks yang kedua ketika Ike dan Felice melumat batang penisku berdua. Aku betul-betul tak tahan saat mulut mereka mengapit batang penisku dari sisi kiri dan kanan. Dan yang terakhir aku tuntaskan di dalam vagina Sisil. Semula aku akan mencabut penisku untuk mengeluarkan spermaku di luar. Namun Sisil yang sudah kepalang nafsu malah mempererat pelukannya di tubuhku, hingga akhirnya spermaku menyembur di dalam. Dan pada saat yang bersamaan Sisil juga mencapai klimaksnya.

Setelah makan malam, Sisil dan Ike menelpon ke rumah masing-masing untuk memberitahu bahwa mereka menginap. Dan kami pun mengulangi kenikmatan-kenikmatan itu semalam suntuk. Di rumah Felice betul-betul bebas, sehingga permainan kami berempat betul-betul variatif. Kadang di ranjang, di ruang tamu, di sofa, di meja makan, di kamar mandi, di kolam renang. Yang paling gila waktu Ike mengajakku bermain di gazebo kecil yang dibangun di halaman belakang rumah Felice. Waktu itu sudah jam 1 pagi. Asyik sekali ditemani hawa dingin kami saling menghangatkan.

Malam itu aku betul-betul akrab dengan Sisil dan Ike. Tak seperti sebelumnya, meskipun akrab namun mereka masih menganggapku seperti guru mereka, jadi masih ada rasa segan. Dari obrolan kami, aku mengetahui bahwa sebetulnya mereka berenam sama-sama pecandu seks. Felice cerita bahwa mereka sering sekali ngerjain anak-anak kelas satu yang baru di sekolah mereka. Rumah Felice ini sering sekali dijadikan ajang pesta seks mereka. Aku sampai geleng-geleng mendengar kegilaan mereka.

Hari-hari berikutnya aku jadi akrab dengan mereka berenam. Di kesempatan lain aku berhasil menikmati tubuh keenam abg itu pada hari yang sama. Hubungan aku dan mereka sempat berlangsung lama, hingga akhirnya setelah mereka lulus sekolah dan mereka saling berpencar. Vanya, Sisil dan Lala melanjutkan studi mereka ke Aussie, sedangkan Ike memilih belajar di USA, Angie dan Felice sama-sama ke Singapore. Tapi kami masih kontak via chat dan email. Beberapa bulan lagi rencananya mereka akan sama-sama pulang ke Indonesia, dan kami sudah mempersiapkan rencana pesta yang luar biasa. Tunggu aja ceritanya..

TAMAT

Asiknya rame rame

Lia sedang duduk menyelesaikan ceritanya di komputer waktu aku, Doni dan Ferry datang ke kamarnya. Tiba-tiba kami bertiga sudah ada di samping dan di belakangnya sambil ikut membaca ceritanya di monitor.

"Wah, ceritamu bikin horny loh..!" kataku yang diiyakan juga oleh Doni dan Ferry.
Yang membuat Lia kaget, Ferry dan Doni yang berdiri di samping kiri-kanannya membaca monitor sambil mengusap-usap celana bagian depannya yang nampak makin lama makin menonjol. Lia semakin kaget lagi sewaktu mereka secara bersamaan tiba-tiba membuka celana sekaligus CD-nya ke bawah, sehingga di kanan-kiri Lia muncul dua benda panjang menjulur ke depan. Rupanya mereka sudah tidak tahan membayangkan cerita di komputer Lia, apalagi melihat penampilan Lia malam itu yang hanya berdaster transparan.

"Tuh kan, jadi keras nih punyaku.., ayo pegang..!" kata Doni sambil menarik tangan Lia dan ditempelkannya di batang penisnya sekaligus penis Ferry.
"Eh, ngapain nih pada..?" tanya Lia sambil agak meronta.
"Udah deh, pegang aja..!" kata Doni yang tiba-tiba menyusupkan tangannya ke daster Lia bagian atas terus ke bawah hingga menyentuh gundukan buah dadanya yang tak ber-BH itu.

Lia langsung menggeliat merasakan usapan tangan Doni pada bagian sensitifnya yang menimbulkan sensasi tersendiri, sehingga Lia tidak lagi meronta dan malah menikmati genggaman tangannya pada batang penis Ferry dan Doni. Ferry pun tidak mau kalah, tangannya ikut masuk menggerayangi buah dada yang kiri sambil memilin-milin lembut puting Lia yang semakin mengeras.
"Aaah.., ssshh..," desahnya merasakan kenikmatan sambil tangannya terus menggenggam dan sesekali mengocok batang penis mereka.

Mereka serentak menghentikan kegiatannya, dan menyuruh Lia berdiri dari kursi menuju ke ranjangnya. Daster Lia yang sudah tidak karuan menyangga tubuhnya langsung terlepas bersamaan dengan tangan Ferry yang menarik cepat tali dasternya. Sambil memegangi tangan Lia, kini mereka dapat bebas melihat kemulusan tubuhnya yang tinggal berbalut CD mini itu.

Lia disuruh berhenti di dekat ranjangnya, dimana aku sudah duduk menunggu, duduk di pinggir ranjangnya tanpa busana. Lia semakin pasrah sambil berdiri waktu Ferry dan Doni merentangkan kedua tangannya, dan mulai menciumi dari mulai ujung jari hingga ke lengan bagian atas. Bulu-bulu halus Lia langsung berdiri menerima perlakuan ini. Kecupan dan permainan lidah Ferry dan Doni di sepanjang kulit tangan Lia membuatnya seperti terbang melayang. Rintihannya semakin menggila sewaktu mereka menaikkan tangan Lia ke atas dan menyusupkan bibir-bibir mereka ke ketiaknya.

Jilatan-jilatan Ferry dan Doni yang belum pernah Lia rasakan sebelumnya itu, membuat Lia menggelinjang kegelian penuh rangsangan. Kepalanya yang menengadah ke atas langsung disambut dengan ciuman Doni di samping leher dan telinganya, sementara Ferry meneruskan jelajahan bibir dan lidahnya yang liar ke samping pinggang Lia. Sementara tangannya di atas memegang kepala Doni yang asyik menyusuri telinga dan tengkuknya, aku berdiri dari ranjang dan tak kusia-siakan buah dadanya yang membusung itu dengan kukecup lembut di sekitarnya. Putingnya yang mencuat kujilat, kukulum dan kuhisap bergantian yang membuat tubuhnya bergetar hebat menahan nikmat.

Desahan dan erangannya yang semakin mengeras tidak terdengar lagi, karena tiba-tiba Doni membungkam mulut Lia dengan mulutnya yang liar sambil memiringkan kepala Lia. Mau tidak mau Lia melayani permainan bibir dan lidah Doni yang menari-nari di dalam rongga mulutnya.
"Mmph... mmph..," erangnya di tengah hebatnya serangan kami bertiga.

Sementara itu Ferry sudah berada di bawah tubuh Lia yang asyik menciumi belakang batang kakinya mulai dari paha, betis hingga tumit kakinya. Tangan Ferry yang tadinya meremas-remas pantat Lia, tiba-tiba begitu cepat turun ke bawah bersamaan dengan CD-nya, hingga akhirnya tak sehelai benang pun menempel di tubuh Lia. Pemandangan indah gundukan vagina Lia tidak kusia-siakan dengan bibirku yang sudah turun dari melumat buah dadanya menjadi ke perutnya.

Setelah puas memutar-mutarkan lidahku di seputar perut dan pusarnya, aku kembali duduk di pinggir ranjang dengan posisi wajahku berhadapan dengan vagina Lia. Tanganku kemudian menarik pinggulnya lebih mendekat ke arah wajahku, dan bibirku langsung mengecup gundukan vagina Lia dengan lembut yang membuatnya menggeliat merasakan sensasinya.

Tidak puas dengan itu, makin kuturunkan tubuhku ke bawah dengan posisi berlutut. Tanganku kemudian merenggangkan kakinya, hingga vagina Lia terbuka bebas menggantung di depan wajahku. Tidak lama kemudian kubenamkan wajahku ke selangkangan Lia yang kemudian diikuti oleh usapan lidah Ferry di seputar pipi pantatnya. Lia semakin hebat menggelinjang, apalagi sewaktu aku sudah mulai menjilat dan mengisap klitorisnya dari bawah yang membuat vaginanya semakin basah.

Lia sudah tidak tahan dan mencoba meronta, tapi kami malah semakin menggila. Tubuh Lia kami dorong ke ranjang, dan kusuruh menungging di pinggir ranjang dengan posisi kakinya menggantung. Doni naik ke ranjang dan berlutut di depannya dengan penisnya yang mengarah ke wajah Lia. Tangan Doni kemudian memegang rambut Lia dan menengadahkan kepalnya.
"Buka mulutmu..!" perintah Doni yang segera diikuti, karena memang Lia sudah horny sekali, dan ingin melakukan apa saja.

Begitu mulutnya terbuka, masuklah batang penis Doni yang tegang itu sedikit demi sedikit. Lia mulai merasakan nikmatnya mengemut penis Doni dengan memaju-mundurkan kepala sesuai gerakan tangan Doni di rambutnya.
"Ayo isep dan jilat sepuasmu..!" perintah Doni lagi yang segera diikuti Lia dengan menjilati sepanjang batang penisnya yang divariasi dengan mengemut kepala penisnya.

Sambil terus menghisap, Lia merasakan ada sesuatu di bawah selangkangannya. Ternyata kepala Ferry sudah menengadah di antara kedua paha Lia dengan posisi badannya berada di bawah ranjang. Bibir dan lidah Ferry mulai beraksi dengan buasnya di vagina Lia. Yang membuat Lia semakin histeris adalah ketika aku menyambut goyangan-goyangan pantatnya yang mencuat ke atas dengan menyapukan lidahku ke belahan pantat Lia dengan sesekali menusukkan ujung lidahku ke lubang pantatnya.

Tanganku pun tidak mau tinggal diam, maju ke depan meremas-remas buah dadanya yang menggantung. Lengkaplah sudah bagian-bagian sentra kenikmatannya diserang habis-habisan. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan indah ini. Kutarik kepalaku dari pantatnya, dan kugantikan dengan menusukkan penisku ke vaginanya dari belakang. Dan untuk mempermudah genjotanku, ferry memindahkan kepalanya dari selangkangan Lia ke bawah buah dadanya yang menggantung, dan mulai menggeluti puting Lia dengan mulutnya.

Bersamaan dengan semakin cepatnya gerakan maju-mundur penis Doni di mulut Lia, kupercepat juga sodokan penisku ke lubang vaginanya sambil mencengkeram keras pinggulnya. Sampailah pada erangan keras Lia diikuti dengan mengejangnya tubuhnya tanda mencapai puncak. Terasa hangatnya cairan di lubang vagina Lia yang diikuti dengan kencangnya otot-otot di situ yang menjepit penisku.

Tanpa istirahat, Doni yang lalu mencabut penisnya dari mulut Lia, membaringkan dirinya dan menarik tubuh mulus Lia ke atasnya, hingga posisinya jadi berjongkok dengan vaginanya yang tepat berada di atas penis Doni yang masih tegak berdiri. Sesaat kemudian, terbenamlah penis Doni bersamaan dengan diturunkannya tubuh Lia. Erangan Lia terdengar cukup keras merasakan nikmat, dan semakin memacunya untuk mempercepat pompaan pada penis Doni.

Sementara itu, Ferry yang menunggu giliran mengambil inisiatif dengan berdiri di samping Lia, dan memasukkan penisnya ke mulut Lia dengan memutar sedikit kepalanya. Vagina dan mulut Lia kembali bekerja keras memompa, sementara aku juga tidak tinggal diam dengan menarik kedua tangan Lia ke belakang, lalu menjilat-jilat putting di buah dada kirinya yang terguncang-guncang seirama naik-turunnya tubuhnya.

Rupanya Doni mencapai puncaknya lebih cepat. Ia menekan tubuhnya ke atas yang diimbangi Lia dengan menahan ke bawah. Ferry yang sudah tidak tahan penisnya dilumat, langsung mengambil inisiatif dengan mendorong tubuh Lia ke samping hingga merebah di ranjang. Kedua tangan Lia direntangkan ke atas, hingga berpegangan pada ujung tiang ranjang, lalu kedua kakinya direntangkan, dan Ferry ambil posisi di antara kedua paha Lia. Vagina Lia yang terbuka langsung dihujam oleh penis Ferry yang masih basah bekas lidah Lia. Ferry mulai menyodokkan penisnya dengan lembut yang membuat Lia mengerang dan berusaha mengimbangi dengan memutar-mutar pinggulnya.

Sementara itu, Doni yang berada di samping Ferry membantu merangsang Lia dengan menciumi, menjilat, dan mengulum jari-jari kaki Lia yang mulus itu. Bibir sensual Lia yang terus mengerang itu membuatku tidak tahan melihatnya. Aku bergerak maju dan kukangkangi wajahnya, hingga penisku yang masih tegang berada tepat di depan mulutnya. Kuangkat sedikit kepalanya dan kudorong masuk penisku. Lia pun menyambut dengan ganas perlakuanku ini. Dihisap dan dikulumnya penisku dengan bibir dan lidahnya.

Genjotan penis Ferry semakin cepat di bawah yang membuat Lia menggelinjang hebat.
"Mmmh.. mmph.. mmmph..," teriak Lia tertahan penisku di mulutnya bersamaan dengan melengkungnya tubuh Lia ke atas.
Lia telah mencapai puncaknya bersamaan dengan Ferry.
"Tunggu, aku juga mau keluar..!" kataku lagi sambil melepas penisku dari mulutnya dan mengocok penisku di depan bibirnya yang sengaja dibukanya lebar.
"Aaagghh..!" erangku yang bersamaan dengan semprotan maniku ke wajah dan mulut Lia.

Tak hanya itu, waktu semprotanku berhenti, langsung dikulumnya penisku lagi dalam-dalam yang membuatku terasa ngilu tapi nikmat sekali. Akhirnya kami berempat merebah jadi satu di ranjang dengan perasaan puas yang mendalam. Yang jelas kami semua merasakan 'asyiknya rame-rame', mirip dengan slogan iklan rokok di TV.


TAMAT

Assisten muda yang imut



Saya seorang karyawan di Bank yang ada di kampus (di sebuah universitas). Saya mempunyai pengalaman yang tak akan saya lupakan. Saya telah menyetubuhi seorang asisten dosen wanita. Jika dilihat, diri saya juga nggak kalah dengan mahasiswa di kampus ini. Saya juga masih muda dan berbadan tegap. Saya memang menyukai asisten dosen itu, saya memang suka dengan wanita yang agak kurus, tinggi, tetapi secara proporsional "lengkap" baik ukuran payudara maupun pantatnya. Pantatnya tidak terlalu besar namun sesuai dengan pinggangnya, wajahnya seperti anak-anak, namun menunjukkan kecerdasan, dan kecerdasannya itulah yang membuatku cukup bernafsu untuk memberinya kepuasan dan membuatnya lemas dalam kepuasan.

Ceritanya begini. Sewaktu itu saya pulang kerja pada jam lima sore, saya lihat dia sedang menunggu hujan agak mereda pada hari itu, kita mengobrol karena dia dan aku searah. Saya ditawari untuk ikut serta dengan mobilnya. Di mobil kami bercerita tentang segala macam. Saya merasa ingin sekali bercerita terus. Singkat cerita mobil yang membawa kami telah tiba di sebuah perempatan di mana saya harus turun, tetapi di luar masih hujan, dia memaksa untuk dapat mengantarkan saya sampai rumah karena jaraknya agak dekat. Tiba di rumah saya menawarkannya untuk masuk, dia akhirnya mau dengan keperluan untuk meminjam kamar kecil yang kemudian saya mengetahuinya digunakan untuk mengganti panty shield.

Singkat cerita, mungkin setelah tertarik kami saling bertatap-tatapan di depan kamar mandi setelah dia selesai dari kamar mandi, aku langsung menerjang bibirnya. Kuhisap mulut dan bibirnya yang lembut, tercium aroma tubuhnya white musk, tanganku bergerak merangkulnya dia memegang bahu dan otot bisep dan trisepku. Rupanya dia juga tertarik dengan tubuhku yang atletis, karena rambutnya sebatas leher, kusibakkan rambutnya ke belakang sehingga bisa kulihat belakang kupingnya dan tengkuknya. Lalu kutarik perlahan hisapan mulutku pada bibirnya, dia menampar lalu kucium leher pada bagian bawah lehernya. Rupanya dia sungguh menikmatinya. Perlahan jari-jemarinya membuka kancing bajuku lalu tangannya masuk di sela-sela dan mengelus dadaku, terasa jantung dan darahku mendesir, sementara keadaan di luar rumah hujan dan dingin.

Tangan kananku mencoba mencari ritsluiting roknya di bagian belakang roknya. Setelah kutemukan, kuturunkan perlahan, tangan kirinya kemudian memegang tanganku sebagai tanda tak setuju. Tetapi karena itu kupindahkan lagi bibirku untuk kembali mencium dalam-dalam bibirnya yang tipis itu. Nafas menderu dan berdesah, sementara semakin rapat saja payudaranya menekan dadaku. Kali ini berhasil kuturunkan ritsluiting roknya, kemudian ia melangkahi keluar dari lingkaran roknya yang telah turun ke lantai.

Lama juga aku mencium gadis ini, mungkin ada hampir 3 sampai 10 menit kemudian aku menatap matanya. Tak ada keraguan dari dirinya, kemudian kuangkat dan kugendong dia ke kamar, sampai di kamar kutaruh dia perlahan ke tempat tidur. Sementara kuturunkan celana panjangku. Kupeluk dia, kucium rambutnya sementara kubuka baju kemudian kaus dalamnya, kulihat kulitnya putih sekali. Kemudian ia mengisyaratkan aku untuk menggunakan kondom, tetapi aku tidak punya, kemudian ia menepuk pipiku dan menarik pipiku sampai mulutku monyong. "Gue nggak mau resiko, dasar anak nakal", kemudian dia keluar kamar sambil hanya mengenakan pakaian dalam. Kemudian dia kembali sudah membawa beberapa kondom yang salah satunya sudah dia buka dengan cara digigit di depanku. Kemudian dia duduk di pahaku, sementara aku sudah telentang.

Dia mengamati bentuk penisku yang agak kentara, karena sudah agak mengeras di dalam celana dalam. Dia memainkan kuku telunjuknya mengikuti bentuknya dan mengelusnya perlahan. Sementara aku menarik CD-ku agak turun. Sehingga kini tegaklah penisku dengan perkasa dan ia tertawa melihatnya. Dia memegang batang penisku dengan tangan kirinya dan mengelus-elusnya perlahan. Aliran darah menuju penisku semakin bertambah tegangnya, sehingga terlihat urat-urat di sekitar batangnya. Lalu tanganku ditariknya untuk memegang penisku sementara dia memasangi kondom itu dengan kedua tangannya. Maklum penisku diameternya hampir sama dengan botol Aqua Rp 1000-an, namun panjangnya hampir sama dengan botol Aqua yang Rp 1500-an. Akhirnya usaha untuk memasukkan kondom itu berhasil lalu dia bergerak maju dan agak berdiri setengah jongkok. Kemudian aku mengarahkan kepala penisku yang terselaputi itu ke arah lubang vaginanya. Dia tidak membuka celana dalamnya, dia hanya menyampingkan sedikit bagian bawah celananya, tetapi dia menarik panty shield-nya dan membuangnya ke lantai. Dia turun sedikit sehingga kepala penisku terbenam pada bagian kemaluannya. Agaknya dia berteriak tertahan dan berdesis, "Sshh... ahkk", sepertinya memang agak rapat otot-otot kewanitaannya.

Dia bangun lalu menyuruhku untuk melakukan petting kembali. Tangannya menarik tanganku untuk meremas-remas payudaranya yang memang agak kecil dan bila ia tiduran tambah tidak terlihat tetapi tetap saja membuatku bertambah nafsu melihat ekspresi wajahnya. Sementara kudekatkan wajahku untuk mencium bibir dan lehernya. Tangan kiriku bergerak turun ke balik celana dalamnya yang berwarna putih. Kuikuti alur garis bibir kemaluannya turun kemudian ke atas agak menyelip masuk sedikit ke dalam, kemudian naik ke atas agak di atas liang kenikmatannya. Kucari benjolan kecil yang kemudian dapat kusentuh-sentuh dan kugerak-gerakkan, seiring itu dia bergerak-gerak tanpa sengaja dia menggigit bibirku, aku menarik wajahku dengan reflek. Tanganku yang tadinya kugunakan untuk meraba payudaranya, kugunakan untuk menarik bibirku agar terlihat dengan mataku, "Sorry nggak sengaja", katanya.

Langsung saja kutarik celana dalamnya turun sampai ke betis, lalu kulihat bagaimana kemaluannya masih ditumbuhi bulu yang tidak terlalu lebat, halus namun merata. Lalu warna merah jambu bibir kemaluannya dengan bagian pantat yang tidak gemuk ia terlihat seperti anak-anak. Langsung saja kutindih tubuhnya namun kujaga agar ia tidak langsung kaget menerima beban tubuhku. Kepala penisku kuarahkan ke arah bagian kemaluannya, tetapi aku kembali menciumi bibirnya dengan bibirku yang agak berdarah. Agak asin kurasakan kini, waktu itu penisku tidak masuk melainkan kegesek di luar saja kemudian kuangkat pantatku dan kulebarkan pahanya.

Sementara tangan kananku meraih bantal dan kuletakkan dibawah pinggang Desy, (oh ya namanya Desy) sehingga agak terangkat. Kemudian kuarahkan masuk kepala penisku sedikit demi sedikit kurasakan hangatnya "di kedalaman". "Aakh... shh..." aku atau dia yang berdesis, aku sudah tidak ingat. Tak sampai penuh masuk, kutarik lagi penisku dan kulebarkan kembali pahanya dan kumasukkan kembali penisku dengan agak memaksa. "Oouch", ujarnya. Kutarik ke atas pantatku kemudian kubenamkan kembali penisku setelah beberapa kali terulang kutarik agak keluar dan kemudian kudesak sangat dalam sampai pangkal atau buah zakarku tertekan pada lubang duburnya.

Selama kejadian itu berlangsung tangan dia memelukku dengan erat namun seakan melemah ketika pinggangku kuangkat naik. Saling tarik nafas terjadi bagai sebuah kancah berebut oksigen sehingga beberapa menit kemudian desakan dari dalam tak bisa kutahan dan kulepaskan saja semuanya. Nafasku terengah-engah, putus-putus, tak lama kemudian aku merasakan rasa tolakan serta desakan yang kuat dari dalam vagina Desy. Keringat dingin terasa di tubuhku dan kejang-kejang serta ekspresi lain yang tak kuingat dan kulihat karena aku merem menyertai pada diri desy. "Ooohh... shh", kemudian dia memelukku erat walaupun terasa desakan dari dalam kuat tetap saja tak mampu mengeluarkan penisku, malah jadinya kutekan sekuatku ke dalam. Lalu tak terasa aku tertidur lemas sampai akhirnya ia menggeserku agar pindah dari atas tubuhnya. Penisku terangkat dan bersandar di pahanya. Kuberikan isyarat untuk mencopot kondomnya, ia kemudian melakukannya. Kupegang penisku dan kugerak-gerakkan, "Berani nggak?" kutanya. Begitu penis itu dipegangnya ia baru terkena di bibirnya dan terjilat sekali, dia kemudian muntah di lantai. "Pusing ah..." iya memang karena seharian kerja aku juga sempat kunang-kunang, setelah mencapai klimaks.

Singkatnya hubungan itu kami lanjutkan sampai sekarang, dan kita sama-sama memuaskan satu sama lain. Tetapi kasihan dia sepertinya capai. Akhirnya tetap saja kupandangi dengan suatu keinginan ke arah bagian belakang pantat mungilnya itu ketika ia berbalik arah untuk pergi.


TAMAT